Waldjinah dan Romantisme Musik Keroncong

Untuk kali kelima, penyanyi keroncong Waldjinah si ‘Walang Kekek’ mendapat penghargaan dalam ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2017 untuk Karya Produksi Keroncong/Keroncong Kontemporer, Langgam/Stambul di usianya yang ke-72 tahun. Tentu ini merupakan kebanggaan tersendiri, khususnya untuk insan musik keroncong. Seperti merupakan peneguhan bahwa musik keroncong adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang senantiasa harus dirawat dan dijaga.

Kelahiran musik keroncong di Tanah Air ini ditengarai sudah ada ketika orang-orang Portugis memperkenalkan budaya mereka melalui musik, yang sekarang kita kenal dengan susunan delapan nada atau diatonis. Diperkirakan pula, tradisi musik ini diteruskan orang-orang Portugis yang dibuang ke daerah Kampung Tugu, Tanjung Priok, Jakarta Utara akibat dari kekalahan mereka oleh serangan pasukan Belanda di Malaka pada 1641. Musik-musik yang dibawa oleh orang Portugis itulah yang menjadi cikal bakal musik keroncong di Indonesia.

Setiap kebudayaan baru yang datang ke Nusantara ini mengalami penyesuaian-penyesuaian dengan budaya asli yang ada. Musik Keroncong adalah salah satu hasil dari proses adaptasi tersebut. Penamaan keroncong diambil dari permainan bunyi alat musik ukele, “crong, crong, crong”. Kemudian muncul istilah ‘langgam’ dan ‘stambul’.

Langgam merupakan produk musik Eropa dan karawitan Jawa. Bisa dilihat dari penggunaan alat musik cello yang dimainkan dengan cara dipetik (teknik pizzicato) menggantikan posisi ritmikal kendhang. Sedang contrabass —orang Jawa lebih sering menyebutnya bass bethot— menggantikan alat musik gong. Kemudian para sarjana musik mempelajari struktur musiknya.

Keroncong, langgam, stambul disimpulkan memiliki struktur lagu atau pola tersendiri. Pola yang dijadikan acuan untuk mencipta lagu-lagu keroncong, langgam, dan stambul yang lebih mengarah pada perpaduan dengan musik dari Arab. Ketiganya masih satu rumpun. Mungkin dari sini mulai sedikit dipahami mengapa dalam penghargaan AMI untuk Waldjinah disebutkan sekaligus jenis musik, yaitu Keroncong/Keroncong Kontemporer, Langgam/Stambul.

Eksistensi musik keroncong (dan rumpunnya) di Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan studio musik Lokananta Solo. Menurut catatan Philip Yampolsky dalam buku Lokananta: A Discoghrapy of The National Recording Company of Indonesia 1957-1985, studio Lokananta aktif melakukan perekaman musik keroncong dari 1964 hingga 1971. Dari aktivitas tersebut kemudian insan musik Indonesia mengenal Waldjinah.

Tercatat beberapa aktivitas perekaman yang melibatkan Waldjinah. Dalam perekaman tahun 1966 beliau terlibat sebagai vokalis bersama Orkes Krontjong Tjempaka Putih di bawah pimpinan Slamet. Kemudian pada 1967 terlibat dalam perekaman dengan grup Orkes Krontjong Bintang. Dilanjut kisaran Januari 1970, masih bersama Orkes Krontjong Bintang; orkes yang beliau pimpin ini kembali masuk dapur rekaman Lokananta dengan lagu-lagu di antaranya Ayo Ngguyu, Panglipur Wuyung, Kembang Kacang, dan Gombal Gambul. Panglipur Wuyung adalah lagu yang mengantarkan Waldjinah menyabet penghargaan AMI 2017 yang digelar di TMII, Jakarta, 16 November lalu. Lagu tersebut bercerita tentang masa-masa kasmaran beliau sewaktu muda.

Keroncong juga menjadi katalisator budaya bagi bangsa Indonesia. Gesang dengan lagu Bengawan Solo yang melegenda mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi oleh negara Jepang. Salah satunya adalah dengan membuatkan Taman Gesang di kawasan Taman Satwa Jurug di Solo –sebuah kebun binatang yang lokasinya berada di pinggir sungai Bengawan Solo. Di sana dapat ditemui pula monumen yang berisi lagu Bengawan Solobeserta notasinya.

Bagi pemerhati musik keroncong, pertanyaan-pertanyaan seputar regenerasi dalam musik keroncong sering muncul. Regenerasi menjadi penting mengingat laju zaman bergerak cepat. Akses terhadap kebudayaan asing semakin terbuka lebar. Akankah generasi mendatang menjaga keberlangsungan musik keroncong di Tanah Air? Salah satu respons dari pertanyaan tersebut adalah dengan digelarnya festival-festival keroncong. Sebut saja Solo Keroncong Festival (Solo), Pasar Keroncong Kotagede (Jogja), Festival Keroncong Jakarta, dan The Sound of Keroncong (Bandung).

Geliat musik keroncong masih bisa ditemui di kota-kota besar di Indonesia. Dari sanalah diharapkan muncul generasi-generasi muda penerus musik keroncong. Memang, keadaannya tak seperti sekarang. Musik keroncong acap kali diidentikkan dengan musiknya orang tua.

Ajang pencarian bakat lewat musik era kekinian lebih didominasi oleh lagu-lagu dengan musik populer. Begitu banyak ajang pencarian bakat, namun hanya genre musik populer yang diusung, ditambah musik dangdut. Pada 1965, Waldjinah sendiri pernah memenangi Bintang Radio, ajang pencarian bakat yang berjaya di masa itu.

Memang, salah satu tantangan dalam berkarya adalah konsistensi. Seberapa daya tahan dan daya juang yang dimiliki. Seberapa teguh pendirian yang ada dalam diri. Waldjinah begitu tekun dan konsisten sampai sekarang untuk tetap berada di jalur musik keroncong meski sempat didera sakit. Bahkan di usianya yang senja beliau juga masih aktif bernyanyi bersama Orkes Keroncong Bintang di berbagai kesempatan.

Tantangan ini berlaku juga kepada generasi penerus keroncong. Tidak hanya menggemari musik keroncong, namun juga berkarya dengan cara mencipta lagu-lagu keroncong seperti pendahulunya. Tentu saja dengan rasa yang sesuai jiwa mereka. Dan, tidak menutup kemungkinan inovasi juga muncul di dalam musik keroncong. Karena khazanah budaya yang begitu kaya dimiliki oleh Indonesia.

Ditambah dengan, Indonesia memiliki pemimpin-pemimpin yang sangat peduli dengan produk-produk kesenian dan kreativitas anak bangsa. Presiden Sukarno meskipun anti-musik Barat, namun tetap memberikan apresiasi terhadap musik dengan cara mengusulkan pembentukan grup musik The Lensoist yang musiknya berakar dari musik tari Lenso Maluku.

Pada masa kepemimpinannya, Megawati menetapkan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional bersamaan dengan tanggal kelahiran pencipta laguIndonesia Raya, WR. Soepratman. Susilo Bambang Yudhoyono melahirkan empat album lagu pada masa jabatannya. Sedangkan, Presiden Jokowi merupakan presiden yang menggemari musik, khususnya metal. Beliau menyempatkan diri untuk menyaksikan pertunjukan musik metal yang digelar.

Semburat optimisme terhadap musik keroncong samar-samar muncul. Mengingat, Presiden Jokowi asli Solo. Begitu pula Waldjinah dan Gesang. Serta, Studio Lokananta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *