Petaka di Lantai Bursa, Apa yang Salah?

Konstruksi selasar lantai I gedung Bursa Efek Indonesia tower II ambruk pada Senin, 15 Januari 2018, sekitar pukul 12.10 WIB. Akibat kejadian tersebut 77 orang menjadi korban dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit.

Siang itu, sebanyak 93 mahasiswa asal Universitas Bina Darma Palembang, Sumatera Selatan diketahui sedang melakukan kunjungan lapangan ke Bursa Efek Indonesia, dan mereka menjadi korban ambruknya selasar tersebut.

Ambruknya selasar pada awal pekan perdagangan saham tersebut menjadi perhatian publik Tanah Air. Sejumlah pihak menilai kejadian ini sebagai hal aneh dan seharusnya tidak terjadi di gedung yang terkenal modern ini.

Seperti halnya pihak Kepolisian menilai hal ini adalah kejadian aneh dan tak mungkin terjadi alias freak accident. Sedangkan, sejumlah pakar termasuk laporan awal Kementerian PUPR menilai ini adalah kegagalan konstruksi.

Pakar konstruksi yang juga seorang arsitek, Dori Herlambang, mengungkapkan ada sejumlah kejanggalan dari ambruknya selasar yang menghubungkan dua tower di gedung BEI tersebut.

Menurut dia, dari beberapa tayangan video amatir yang tersebar, tampak jika selasar kantilever atau menggantung ini ada yang janggal. Sebab, seharusnya bangunan ini ditopang balok sejak awal dibuat dan terhubung bangunan inti.

Selain itu, kejanggalan terlihat dari struktur tambahan selasar yang dibuat dari balok-balok baja yang hanya ditempel ke dinding. Padahal menurut Dori, bangunan inti pada gedung bertingkat tidak boleh hanya ditempel karena daya cengkramnya kurang kuat.

“Bangunan tambahan sebuah gedung tetap harus mengandalkan balok terusan dari gedung intinya, tidak boleh hanya sekadar menempel,” kata Dori dihubungi VIVA, Senin 15 Januari 2018.

Sementara itu, atas kejadian tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pun langsung melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kegagalan bangunan dan mencegah kejadian serupa tak terulang.

Kementerian PUPR kemudian menugaskan Direktorat Jenderal Cipta Karya membentuk tim untuk melaksanakan kajian teknis. Adapun metodologi yang dilakukan berupa wawancara, pengamatan visual, analisis foto dan CCTV.

Pada kesempatan tersebut, Tim dari Ditjen Cipta Karya mendatangi lokasi kejadian pada Senin 15 Januari 2018 pukul 15.00 WIB, tim mewawancarai pengelola gedung, diskusi dengan anggota REI dan bertemu Polres Jakarta Selatan.

Dari hasil pemeriksaan awal tersebut diduga konsentrasi beban terkumpul pada salah satu titik selasar yang mengakibatkan salah satu penggantung terlepas dari dudukannya di atas dan memicu penggantung lainnya turut lepas.

Selain itu, beban momen yang terjadi tidak mampu dipikul oleh tumpuan pada dinding vertikal dan memicu kegagalan bangunan. Sehingga, ke depan atas temuan tersebut perlu pemeriksaan detail terhadap dokumen pembuatan gedung.

Sementara itu, ambruknya selasar gedung BEI yang dinilai karena kegagalan konstruksi kemudian disangkutkan dengan kelalaian dan buruknya pengelola gedung melakukan perawatan konstruksi secara berkala.

Namun, Pengelola Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Farida Riyadi, mengklaim sejak gedung berdiri pihak pengelola secara rutin melakukan pengecekan bangunan gedung secara berkala.

“Pemeriksaan berkala setiap tahun ada, terakhir bulan Mei 2017,” kata Farida Riyadi di gedung BEI, SCBD, Jakarta Selatan, Senin, 15 Januari 2018.

Ia mengungkapkan, untuk konstruksi gedung pihaknya sejak awal menggunakan konsultan yang dapat dipercaya. Sehingga, ia enggan menanggapi dugaan kelalaian pengelola atas konstruksi tersebut.

Kegagalan konstruksi juga diduga Sekretaris Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) Andi Rukman Karumpa. Sebab, konstruksi tersebut benar-benar jatuh ke bawah dan sama sekali tidak ada besi-besi beton yang menahan. Jadi, bisa dilihat ujung dari selasar tersebut tidak kuat berpegangan pada beton utama dan tidak ada fondasi.

Sehingga, yang perlu dicermati lanjut dia, adalah Sistem Laik Fungsi (SLF) yang dikeluarkan oleh Pemda DKI Jakarta seperti apa. “Jadi itu kan dikeluarkan oleh Pemda DKI,” jelas dia kepada VIVA.

Kemudian, yang perlu dilihat dari kejadian tersebut apakah selasar yang jatuh itu adalah bangunan tambahan. Karena, bila itu tambahan maka itu bisa saja terdapat pelanggaran berat.

Dan yang terakhir, kata Andi, kekuatan dari bangunan tersebut perlu dicek kembali apakah dia kuat terhadap guncangan gempa. Dan bila ternyata seperti kemarin pasti jelas perencanaanya dan spec-nya bermasalah.

Untuk itu, agar kondisi serupa tidak terjadi lagi di gedung-gedung Tanah Air, Andi mengungkapkan perlunya ketertiban dari tahap perencanaan hingga penggunaan material yang ada dalam kontruksi.

“Semuanya harus tertib, bukan hanya itu. Banyak jembatan yang longsor, banyak bangunan yang jatuh, ya kan. Banyak pekerjaan yang belum selesai masa pemeliharaannya sudah rusak. Itu semua akibat tidak mematuhi spec yang ada. Tidak kerja jujur,” ujarnya.

Dengan demikian, Andi mengharapkan agar semua bisa mematuhi spec dan bekerja dengan baik. Seperti konsultan perencanaan hingga ke konsultan pengawasan.

Ini sangat penting di zaman karena banyak pelaku konstruksi di Indonesia melihat hanya dari perbandingan harga. Dan yang terendah bisa menang tapi spec tidak jadi perhatian.

“Jadi intinya, benar-benar harus mematuhi spec, apapun itu, kalau kita ikut itu pasti baik. Pekerjaan seperti itu bisa bertahan sampai 50 tahun. kita lihat bangunan Belanda yang puluhan tahun ratusan tahun masih kuat. Karena mereka benar-benar sangat jaga itu,” tegasnya.

Kejadian ambruknya selasar di tower II BEI, ternyata tak membuat aktivitas perdagangan tertahan. Sebab, Selasa 16 Januari 2018, perusahaan jasa konstruksi telekomunikasi asal Malaysia, PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) justru resmi mencatatkan saham perdana atau listing di Bursa Efek Indonesia.

Bahkan, saat pembukaan perdana Saham LCKM justru tercatat naik alias tak terpengaruh insiden robohnya selasar kemarin. Adapun Saham LCKM semula di harga penawaran Rp208 per saham naik 104 poin ke level Rp312 per lembar.

Saham LCKM pun ditransaksikan sebanyak satu kali dengan volume sebanyak satu lot dan menghasilkan nilai transaksi Rp31.200.

LCKM menjadi perusahaan pertama yang tercatat di pasar modal tahun ini. LCKM berencana melepas sebanyak-banyaknya 200 juta lembar saham baru atau setara dengan 20 persen dari modal ditempatkan setelah Initial Public Offering (IPO).

Direktur Utama LCK Global Kedaton, Lim Kah Hock menyampaikan keprihatinannya atas musibah yang terjadi di Gedung BEI Senin kemarin. Diharapkan perdagangan di BEI tetap berjalan normal.

“Kami berharap bisa memberikan investasi yang menarik bagi investor dan dapat menjalankan good corporate governance,” ujarnya.

Sementara itu, secara keseluruhan atas insiden tersebut tidak memengaruhi perdagangan saham secara operasional. Dan PT Bursa Efek Indonesia memastikan seluruh kegiatan berjalan normal.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat mengatakan, secara operasional perdagangan saham Selasa maupun kemarin (Senin), tidak mengalami kendala.

“Saham, saya rasa secara operasional perdagangan tidak mengalami kendala apa-apa. Dan, makanya kami kemarin juga tidak men-suspend perdagangan, karena tidak ada kaitan secara langsung terhadap operasional perdagangan kejadian kemarin,” kata Samsul di Gedung BEI, Selasa 16 Januari 2018.

Ia mengatakan, seluruh penanganan yang dilakukan pihak BEI sudah cukup baik. Hari ini, kinerja pasar modal masih berjalan seperti biasa, meskipun selasar dengan konstruksi serupa masih belum boleh dilewati.

Saat ini, untuk menghindari kejadian serupa di BEI, sejumlah selasar sudah dipasangkan tiang penyangga. Langkah tersebut juga dilakukan untuk membantu keperluan investigasi dan keperluan lain dalam pengawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *