Berkat Kotoran Sapi untuk Biogas, Warga Pasuruan Tak Konsumsi Elpiji

Puluhan rumah tangga di Desa Balunganyar, Kabupaten Pasuruan merasakan manfaat biogas dari kotoran sapi. Selain lingkungan menjadi bersih, mereka menghemat pengeluaran rumah tangga setiap bulan.

Desa Balongayar memiliki 8 dusun. 3 Dusun memiliki instalasi biogas. Dusun Krajan memiliki 7 unit biogas, Dusun Wedusan Kidul 2 unit biogas dan Dusun Wedusan Lor memiliki 2 unit biogas.

“Setiap satu unit biogas bisa dimanfaatkan 5 kepala keluarga (KK). Alhamdulillah warga bisa menghemat pengeluaran untuk membeli tabung gas elpiji. Sebelum ada biogas, setiap bulan rata-rata warga menghabiskan uang Rp 60 ribu-Rp 70 ribu untuk membeli 3-4 tabung, sekarang cukup mengeluarkan Rp 7.500/bulan untuk biaya perawatan instalasi biogas,” kata Kepala Desa Balonganyar, Sholeh, di salah satu instalasi biogas milik warganya, Kamis (30/11/2017).

Sholeh mengatakan, biaya pembangunan biogas seluruhnya dari anggaran Dana Desa (DD) melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bangkit. Setiap unit biogas menghabiskan anggaran Rp 22 juta.

“Anggaran tersebut untuk pembangunan kubah dari beton berukuran 4 meter persegi, jaringan pipa dan kompor ke rumah warga dan biaya pembangunan. Jadi warga tak keluar uang sepeser pun,” terangnya.

Sholeh membeberkan pada awalnya ia dan sejumlah perangkat desa mengalami kesulitan memberikan sosialisasi pada warga sebelum memutuskan membangun biogas. Menurut dia, sebagian besar warganya tak memiliki pengetahuan tentang manfaat besar biogas.

“Sebenarnya gagasan ini sudah kami kenalkan kepada warga sejak 2009 karena biogas di desa ini bisa dikatakan keharusan karena 99 persen warga memelihara sapi perah. Selain untuk kebersihan lingkungan dari kotoran sapi, kan sangat bermanfaat untuk kemandirian energi di desa ini,” terangnya.

Sosialisasi tersebut, lanjut Sholeh, tak berjalan mulus. Sehingga baru tahun 2011, melalui dana bantuan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Pasuruan, yang saat itu bernama Badan Pemberdayaan Masyarakat, pihaknya membangun beberapa instalasi biogas percontohan dari bahan plastik.

Namun saat warga sudah mulai yakin akan manfaatkan biogas, saat bersamaan instalasi biogas yang terbuat dari plastik tersebut rusak dan tak berfungsi. Kepercayaan warga pun ikut surut.

“Saat itu sebenarnya sudah bisa dirasakan manfaatkanya oleh beberapa kepala rumah tangga. Namun kepercayaan warga hilang lagi karena mudah rusak. Kan bahannya plastik jadi mudah pecah,” ungkap pria ramah ini.

Tak patah arang, Sholeh terus menyakinkan warganya. Melalui anggaran Dana Desa, pada 2015 pihaknya kembali membangun instalasi biogas dari beton dan manfaatnya dirasakan sampai sekarang.

“Tahun 2018 nanti akan dibangun 12 instalasi lagi. 6 Unit anggarannya dari Dana Desa dan 4 unit dari swasta,” ungkapnya bangga.

Salah seorang warga yang memanfaatkan biogas, Zainullah, mengaku keluarganya sangat terbantu dengan adanya biogas. Pria yang juga memelihara sapi perah ini mengaku tak lagi membuang kotoran sapi ke sungai, namun cukup diarahkan ke lubang kubah biogas.

“Rumah saya jadi bersih. Saya juga lebih hemat karena tak lagi beli elpiji,” ungkap Zainullah.

Seperti kebanyakan desa di Lekok, penduduk Desa Balonganyar memelihara sapi perah karena di kecamatan ini terdapat koperasi susu sapi yang menampung hasil perahan sapi-sapi warga. Bahkan di desa ini populasi sapi lebih banyak dari populasi penduduk. Desa berpenduduk 7.225 jiwa ini memiliki populasi sapi perah mencapai 7.825 ekor.

“Satu unit biogas memerlukan minimal 10 ekor sapi. Satu ekor sapi rata-rata mengeluarkan 10 kilogram kotoran setiap hari. Jadi sehari kurang lebih 10 kwintal kotoran masuk ke biogas,” terangnya.

Keberhasilan Desa Balonganyar memanfaatkan Dana Desa dan potensi kotoran sapi menjadi biogas mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Desa ini ditetapkan sebagai Desa Mandiri Energi oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

“Saya sangat bangga dan memberi apresiasi besar pada warga Desa Balonganyar. Pemerintah daerah akan mendorong desa-desa lain di Lekok dan Grati yang memiliki banyak sapi perah meniru desa ini, bahwa Dana Desa bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian warga sesuai potensi yang ada,” kata Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf.

Kotoran sapi di wilayah ini menjadi masalah tersendiri karena rata-rata dibuang ke sungai. Dampaknya sangat terasa saat musim hujan, di mana sungai air sungai berwarna hijau dan berbau. Aliran air juga terhambat karena jumlah kotoran sangat banyak.

“Jika semakin banyak dibangun biogas, maka limbah tersebut akan berkurang signifikan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *