Sekaten, Mengantar pada yang Tak Terdengar

Maulid Nabi tidak semata diwujudkan dalam doa-doa, namun juga pada nada-nada. Pada masyarakat Solo, Yogyakarta, dan Cirebon gamelan Sekaten dibunyikan sejak seminggu menjelang hari lahir Nabi Muhammad tersebut (24 November sampai 1 Desember). Gamelan Sekaten memiliki ukuran jumbo, lima kali lebih besar dibanding gamelan biasa, karena itu disebut instrumen musik pakurmatan (yang dihormati). Peringatan Maulid Nabi dalam tembok keraton menjelma dalam berbagai ritus dan upacara yang sakral, sarat akan nilai-nilai kultural. Jejak perjalanan Islam dan Jawa berlangsung secara harmonis dan damai, tanpa kekerasan dan kekakuan. Konon, Sunan Kalijaga menginisiasi pembuatan gamelan Sekaten untuk menarik minat masyarakat agar melihat dan mendekat.

Gamelan Sekaten dibuat dengan ukuran besar agar menghasilkan bunyi yang keras-bising, dan dapat didengar oleh masyarakat dari radius terjauh sekalipun. Gamelan itu ditempatkan di samping masjid agung keraton. Dibunyikan bertalu-talu, masyarakat penasaran dan mendekat. Akan tetapi, untuk melihat dan menikmati gending-gending yang ada, mereka diwajibkan untuk berwudu dan membaca dua kalimat syahadat terlebih dahulu. Otomatis, gamelan Sekaten adalah katalisator yang mengantarkan masyarakat Jawa menjadi Islam. Karena itu, nama gamelan itu adalah Sekaten yang diambil dari kata syahadatain yang tak lain adalah kalimat syahadat.

Hingga saat ini gamelan tersebut masih dibunyikan. Uniknya, dari peristiwa itu kita dapat memetik nilai dan tafsir-tafsir baru. Sekaten tidak saja mengantar telinga pada apa yang didengar, namun juga menemani pada sesuatu yang tak terbatas. Darinya kita dapat membaca tauladan berharga tentang akulturasi Islam-Jawa atau Jawa-Islam. Darinya kita dapat melihat tentang kisah-kisah berharga yang menjadi penting untuk dimaknai kembali di hari ini. Di saat kekerasan atas nama agama seringkali terjadi, di kala agama telah menjelma sebagai alat politik dan adu domba, kisah tentang Sekaten adalah oase yang memberi penyegaran dan penyadaran. Hadirnya Sekaten menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin, pembawa rahmat bagi semuanya.

Maulid Nabi berpendar menjadi rupa-rupa selebrasi, dari perayaan makanan, baju, perilaku, hingga lagu-lagu. Dalam konteks Sekaten, agama Islam memberi warna bagi terbentuknya kehidupan religiusitas yang humanis. Ketika datang menyaksikan Sekaten, kita tidak semata menikmati bunyi, namun juga tingkah lagu budaya. Orang-orang mengunyah sirih, membeli telor asin, mengusap instrumen gong dengan segala doa-doa yang mereka hafal. Dalam bayangan mereka, Nabi bukan semata berkisah tentang persoalan agama, tapi juga laku hidup dan cinta kasih pada sesama. Merayakan kehadirannya adalah dengan bermusik yang mengiringi ikhtiar berkontemplasi atau perenungan diri. Bunyi gending itu membawa pada ingatan-ingatan tentang tauladan kenabian.

Di zaman ketika agama menjadi alat politik, permusuhan, dan kekerasan kiranya menengok adab kultural religius menjadi penting. Tentang bagaimana kebudayaan menjadi lorong bagi terbentuknya Islam khas Nusantara dengan berbagai kearifan dan kekuatan yang dimilikinya. Hal ini setidaknya mendekonstruksi perilaku kekerasan dan kesewenang-wenangan dalam menempatkan agama sebagai sesuatu yang banal. Keren Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan (2012) memandang bahwa saat ini kata “agama” telah berpendar menjadi tafsir yang semena-mena. Kita kemudian menganggap Tuhan sebagai pecandu perang yang akut, suka kekerasan, pembenci dan dendam. Agama dan Tuhan menjadi semacam “pelegalan” bagi tindakan-tindakan yang brutal dan salah.

Oleh karena itu, kebudayaan memiliki caranya dalam memandang dan menempatkan agama. Kebudayaan adalah rumah bagi tumbuh dan berkembangnya agama, tak terkecuali Islam. Pada peristiwa Sekaten kita dapat melihat hal tersebut. Gending gamelan seolah membunyikan suara-suara keilahian. Mendengarkannya tak cukup dengan hanya berbekal estetika ala Jawa, namun juga pengetahuan tentang Islam. Begitu juga sebaliknya, bekal agama saja tak cukup, harus diimbangi dengan ilmu budaya.

Merayakan Maulid Nadi tak harus dengan mendaras ayat-ayat suci, tak pula dengan ritus-ritus puasa, tapi juga bermusik. Sekaten menjadi alat legitimasi yang menghubungkan manusia Jawa dengan akar kosmis-religiusnya. Mereka masih menempatkan keraton sebagai pusat kebudayaan dengan menganggapnya jagat kecil (kosmis), tempat sejarah tentang mereka ditorehkan. Sementara warna keislamaan (religius) masih dapat dijumpai dan menjadi acuan bagi terbentuknya karakter dan perilaku manusia Jawa yang ideal.

Hadirnya Sekaten untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad menjadi sebentuk “ruang publik” yang menyatukan. Mereka mendatangi Sekaten, bertegur sapa dengan sesama dan berkomunikasi. Sekaten meluruhkan sikap soliter, di mana setiap orang sibuk menyendiri dengan berbagai gadget di tangannya. Kehadiran fisik atau tubuh menjadi penting untuk melihat dan menikmati Sekaten. Pertunjukan itu (katakanlah demikian), tidak digelar dalam panggung yang megah dengan sorot lampu dan kamera.

Sekaten ditontonkan pada ruang terbuka yang dapat dinikmati dan dilihat dari berbagai arah. Egalitarian atau kesetaraan adalah kuncinya. Setiap orang, tidak peduli kaya-miskin, tua-muda dapat menikmati Sekaten tanpa beda. Mereka datang dengan misi religius sekaligus kultural. Untuk mengingatkan tentang jati diri, tentang siapa dan dari mana mereka berasal. Sekaten adalah simpul yang menggenggam erat agar manusia Jawa tak keluar dari batas-batas kodratnya.

Namun sayang hari ini generasi milenial seringkali menganggap Sekaten sebagai hiburan yang eksotik, atau bahkan arkhaik (jika tak boleh dibilang purbawi), menganggapnya ketinggalan zaman, dan tak lagi menghibur. Sekaten kemudian menjelma sebagai peristiwa musik tahunan yang semata didengar, tak membawa pada gumpalan makna dan nilai luhur di baliknya. Aduh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *