Sekaten dan Keresahan Spiritual

Kala itu, Sunan Giri —salah satu Wali Sanga— berupaya untuk membuat seperangkat gamelan. Beliau memang memiliki ilmu tentang pembuatan gamelan. Kemudian sang pande menamai perangkat gamelan hasil karyanya itu dengan Gamelan Sekati. Pembuatan perangkat gamelan itu bukan berarti tanpa tujuan, atau sekedar sebagai media penyaluran hobi semata.

Gamelan Sekati dibuat dalam rangka sebagai penunjang dakwah Wali Sanga. Metode dakwah yang dipilih adalah dengan tidak membuat resah dan gelisah masyarakat. Menurut Sunan Kalijaga, metode dakwah yang baik adalah dengan berbaur dengan masyarakat, tidak membuat percekcokan, meski tidak dapat dipungkiri juga, transisi dari Hindu-Buddha ke Islam menghadirkan keresahan demi keresahan pada masyarakat kala itu. Tentu saja keresahan itu meresap sampai ke kedalaman spiritual masyarakat yang sudah memiliki sistem kepercayaan dan keyakinan.

Maka, kehadiran Gamelan Sekati di tengah-tengah masyarakat diharapkan mampu menjadi media komunikasi yang efektif untuk mengundang agar masyarakat bisa menerima dan perlahan memahami nilai-nilai ajaran agama yang masih terasa asing. Gamelan Sekati menjadi representasi identitas budaya asli masyarakat Jawa. Wali Sanga memanfaatkan kedekatan kultural tersebut. Setelah disepakati di dalam internal Wali Sanga, maka Gamelan Sekati dimainkan di halaman Masjid Demak.

Masyarakat yang mendengar suara gendhing yang dimainkan kemudian berbondong-bondong mendatangi sumber suara. Kemungkinan besar, gamelan yang terbuat dari bahan perunggu memiliki desible suara yang cukup keras. Dan, karena pada saat itu mungkin soundscape tidak seramai sekarang, maka jangkauan resonansi suara dari Gamelan Sekati bisa mencapai puluhan kilometer meski tanpa pengeras suara. Dimainkannya seperangkat gamelan bak sebuah konser dengan soundsystem berdaya puluhan ribu watt.

Sesaat setelah banyak masyarakat berkumpul di lingkungan masjid kemudian Sunan Kalijaga berdiri di pintu gerbang, dan mulai memperkenal Islam dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemeluk ajaran Hindu ataupun Buddha. Strategi kultural kemanusiaan inilah yang kemudian membuat masyarakat secara sadar memilih untuk memeluk agama Islam yang diajarkan tidak dengan kekerasan tapi dengan kelembutan. Masyarakat dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat untuk beragama Islam sekaligus pengakuan bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad sebagai utusan-Nya.”

Setidaknya, seperti itulah tafsir sejarah terhadap perayaan tradisi Sekaten yang sekarang sedang berlangsung. Setelah keruntuhan Kerajaan Demak kemudian dipecahnya Kerajaan Mataran menjadi dua lewat perjanjian Giyanti oleh VOC sekitar tahun 1755 –menjadi wilayah Surakarta dan Yogyakarta– tradisi Sekaten masih berlangsung sampai sekarang di dua wilayah itu. Sekaten diambil dari nama perangkat Gamelan Sekati yang dibuat oleh Sunan Giri. Yang kedua, Sekaten berasal dari kata syahadatain.

Masyarakat Jawa zaman dulu kesulitan untuk mengucapkan “syahadatain”, dan lebih mudah mengucapkan “Sekaten”. Jadwal yang dipilih adalah menjelang peringatan lahirnya Muhammad bin Abdullah, yang kemudian kita kenal sebagai Rasul penutup para Nabi, Nabi Muhammad SAW. Sekaten menjadi salah satu monumen tonggak penyebaran Islam di tanah Jawa.

Di Surakarta khususnya, gamelan Sekaten terdiri dari dua perangkat. Yakni, gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari. Jika kedua gamelan tersebut ditabuh, maka perayaan tradisi Sekaten atau yang lebih familiar dengan istilah Sekatenan, dimulai. Kedua gamelan tersebut dimainkan selama sepekan penuh, dan hanya berhenti ketika memasuki waktu salat. Dengan mudah bisa kita jumpai pula pedagang yang menjajakan daun sirih dan endhog amal (telur asin). Keduanya merupakan simbol dari spiritual masyarakat.

Mengunyah daun sirih dapat dimaknai sebagai proses menjaga kebersihan jasmani dan rohani. Dulu, mengunyah daun sirih sebagai aktivitas untuk membersihkan sela-sela gigi. Endhog amal bisa dimaknai bahwa salah satu sarana untuk menolak hadirnya penyakit dalam tubuh kita adalah dengan banyak beramal. Atau, dalam istilah lain sadaqah. Ada juga pecut (cambuk) yang dijual di sekitar gamelan Sekaten ditabuh. Dia hadir sebagai simbol pengusir hawa nafsu yang berlebihan. Semuanya memiliki makna filosofis sebagai upaya untuk memperbaiki spiritualitas pada diri manusia.

Selain itu perayaan Sekaten juga menjadi ajang komunikasi antarmasyarakat sendiri melalui transaksi ekonomi. Tidak dapat dipungkiri, berkumpulnya banyak manusia menjadi momentum yang dipandang akan mendatangkan keuntungan secara finansial. Maka tidak heran, perayaan tradisi Sekaten sekarang sedikit bertransformasi menjadi seperti acara “Expo”. Perputaran roda ekonomi bahkan sedikit memberikan bias terhadap makna Sekaten itu sendiri.

Dengan mudah akan kita jumpai wahana permainan. Baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Volume suara yang ditimbulkan memiliki desibleyang lebih keras ketimbang suara gamelan yang ditabuh. Sekaten dan gamelan seolah terpisahkan oleh jarak sejarah yang sangat jauh. Kita lebih menikmati nuansa perayaan ingar-bingarnya. Kehadiran pengunjung untuk menikmati alunan gendhing dari gamelan Sekaten hanya sesaat. Mereka lebih tertarik untuk mengunjungi pedagang baju, mainan anak-anak, atau makanan-makanan yang memang tumpah ruah. Terkadang sampai kesulitan pula kita berjalan di dalamnya. Kesulitan pula kita mencari tempat parkir kendaraan.

Tidak salah memang. Perayaan tradisi Sekaten juga harus mampu menyesuaikan perkembangan arus zaman. Hingga muncul istilah Pasar Malam Sekaten; keramaian mendominasi, suara mesin diesel sebagai penguat sumber arus listrik di mana-mana. Momentum yang baik untuk menggelar dagangan, sebagai salah satu hikmah dan berkah di bidang ekonomi.

Mungkin keresahan-keresahan spiritual itu hadir kembali ke relung-relung penghayat tradisi Sekaten. Perayaan tradisi Sekaten dijaga sebagai pengingat dan kontinuasi peneguhan siapa sesembahan kita. Tradisi Sekaten juga mengingatkan bahwa Islam memiliki sisi kelembutan yang dibalut keindahan melalui kreativitas dengan dibuat dan dimainkannya Gamelan Sekati. Karena, era milenial ini Islam mendapat counter cukup kuat dengan label “teroris”-nya.

Saya rasa, membuka dan menghayati tradisi Sekaten perlu dilakukan terus-menerus. Supaya nilai-nilai kebaikan, kelembutan, keindahan yang ada di dalamnya tidak tergerus oleh arus informasi yang sedemikian cepatnya. Doktrin dengan begitu cepat merambat. Mungkin kita semua tidak lagi dikawal langsung oleh Wali Sanga. Tetapi strategi dan metodenya dapat kita hayati sampai sekarang ini melalui produk-produk kesenian dan pola-pola pendekatan kultural yang merasuk merespons dengan sigap keresahan-keresahan spiritual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *