Pendopo Agung Ronggohadinegoro Blitar Dibuka untuk Umum

Pemkab Blitar mulai membuka Pendopo Agung Ronggohadinegoro sebagai destinasi wisata publik. Tempat ini dikenal sebagai rumah dinas setiap kepala daerah.

Namun karena tempat ini masih aktif dipakai untuk kegiatan pemerintahan dan rumah dinas bupati, maka kunjungan wisata hanya dibuka tiap hari Sabtu dan Minggu saja.

“Pembukaan Pendopo Ronggohadinegoro sebagai destinasi wisata sudah setahun yang lalu. Dengan dibukanya tempat ini, saya harap masyarakat luas mengetahui seluk beluknya. Semoga dengan dibukanya tempat ini, bisa menjadi pusat studi budaya Jawa,” kata Bupati Blitar, Rijanto kepada detikcom, Senin (12/2/2018).

Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro yang terletak di utara alun-alun Kota Blitar, merupakan satu diantara cagar budaya yang ada di Kabupaten Blitar. Bahkan satu-satunya pendopo milik pemerintah di Jawa Timur yang berada di kampung kauman.

Saat ini tata letak bangunan pusat pemerintahan tempo dulu selalu menghadap ke selatan. Ditandai dengan sisi utara pendopo (pusat pemerintahan), di halaman depan alun-alun, sisi timur penjara dan sisi barat tempat ibadah. Maka dimanapun sekitar tempat ibadah dinamakan kampung kauman. Dan Blitar memiliki itu semua.

“Pendopo ini dibangun pada Tahun 1875 oleh Bupati Blitar oleh KPH Warsoekoesomo. Sebelumnya terletak di wilayah Pakunden, namun dipindah kesini sejak tahun 1848 karena terkena aliran lahar Kelud,” tutur guide pendopo, Harmono (67).

Situs resmi Humas Pemkab Blitar menulis, Keberadaan Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro tidak lepas dari sejarah pemerintahan Kabupaten Blitar pada masa Belanda.

Sebelum Tahun 1848 pusat pemerintahan Kabupaten Blitar berada di pinggir Sungai Pakunden. Kemudian Bupati Blitar yang pertama R.M. Aryo Ronggo Hadiengoro memindahkannya ke wilayah Kota Blitar saat ini karena pusat pemerintahan sebelumnya terkena lahar letusan Gunung Kelud.

Pembangunan pendopo ini bersamaan dengan pembangunan alun-alun yakni kurun waktu 1875, yang saat itu Bupati Blitar dijabat oleh KPH.Warsoekoesomo. Bangunan dari pendopo tersebut diantaranya terdiri dari bangunan utama (main building dengan gaya Indische empire style) yang saat ini berfungsi sebagai rumah dinas Bupati Blitar.

Ruang utama disebut juga dengan pringgitan njero. Di pilar pringgitan ini terdapat prasasti prestasi yang pernah diukir oleh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Blitar. Di sebelah timur ruang kerja Bupati dan sebelah barat tempat penyimpanan pusaka. Di ruang pusaka inilah tersimpan pusaka tetungguling kadipaten yang disebut dengan Cemethi Samandiman.

Selain itu ada bangunan unit dua di halaman beranda belakang menghadap selatan. Pada masa lalu digunakan sebagai tempat abdi dalem dan para tamu Bupati.

Sedangkan pada bangunan ketiga, berada disamping timur dan kanan sebagai tempat para ajudan. Dahulu sebagai tempat pengawal pribadi keluarga Bupati.

“Di depan bangunan utama ada 4 area dwarapala (2 berwujud sywa dan 2 berwujud singa) dan 1 prasasti Balitar I. Prasasti itu berisikan titah Prabu Jayanegara menganugerahkan Blitar sebagai tanah perdikan,” tambah Harmono.

Bangunan keempat yakni gedung bunder. Gedung dengan struktur memutar berupa batu kali itu setinggi 5 meter. “Kami menyebutnya pengungsen. Gedung ini sebagai tempat pengungsian bupati dan keluarganya ketika ada lahar Gunung Kelud,” jelasnya.

Seorang pengunjung dari Surabaya, Suhartatik (73) mengaku senang berkunjung ke tempat ini. “Saya lahir di Blitar. Kalau dulu, tidak semua orang bisa masuk sini. Hanya priyayi atau pejabat saja. Sekarang semua bisa melihat dan masuk kedalam, rasanya ya bangga,” katanya yang datang bersama rombongan lansia Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *