Pemuda Misterius Sebelum Serangan Gereja Sleman

Seorang pemuda misterius berjaket putih membawa tas ransel tiba-tiba muncul selepas warga menunaikan salat zuhur di pelataran Masjid An Nur, Jambon, Sleman sehari sebelum penyerangan Gereja Santa Lidwina Bedog Sleman, Sabtu 10 Februari 2018. Tak ada sapaan basa basi kepada Catur Hartarto, 45 tahun, penjaga masjid, pemuda itu datang lantas tidur-tiduran di emperan masjid yang berdiri di tanah milik warga. Masjid itu jaraknya hanya sekitar 50 meter dari gereja Sleman itu.

Pemuda bertopi gunung itu memasang headset di telinganya. Hingga hampir maghrib menjelang Catur Hartanto pulang, pemuda itu masih saja tiduran di emperan masjid. “Saya curiga, tapi saya tak sempat bicara apa-apa,” ujar Catur yang sehari-hari menjaga toko barang plastik yang lokasinya satu komplek bersebelahan dengan masjid An Nur, Catur Hartanto, 45 saat ditemui Tempo, Senin, 12 Februari 2018.

Catur menuturkan masjid itu berdiri di tanah wakaf juragan toko barang plastik yang dijaganya. Karena masih dalam satu komplek dengan toko, maka Catur yang sehari-hari bertugas menutup dan membuka pintu masjid saat waktu salat tiba. Personel kepolisian sebelumnya mendatangi masjid itu setelah Gereja Lidwina diserang. Polisi juga datang ke masjid itu pada Senin 12 Februari 2018.

“Pemuda itu jelas bukan orang sini.” Warga sekitar masjid, ujar Catur, biasanya langsung pulang sesudah salat. “Karena masjid pasti saya tutup.”

Ia sempat mengawasi sejenak tingkah laku pemuda misterius itu. Selang 30 menit dari kedatangannya ke masjid itu sekitar pukul 13.30, seorang pria mengendarai sepeda motor ada yang datang menemuinya di masjid. “Sepertinya dia sedang COD-an dengan pria itu.” Lelaki misterius itu mengeluarkan powerbank lalu mengetes-ngetes ponsel yang dibawa orang yang baru datang.

COD atau Cash On Delivery adalah istilah dalam belanja online. Penjual dan pembeli bertemu muka saat transaksi atau pembayaran. Tak sampai lama mengecek ponsel, pria itu pergi meninggalkan pemuda yang kembali tiduran di emperan masjid sampai Asar tiba. Melihatnya, Catur merasa risih. Agar pemuda itu terbangun, Catur sengaja menghentak-hentakkan kakinya ketika berjalan. “Tapi tetap enggak bangun, “ ujar Catur terakhir kalinya melihat pemuda itu menjelang maghrib ketika hendak pulang.

Polisi memeriksa dua masjid setelah Gereja Santa Lidwina diserang, salah satunya An Nur, sebelum menetapkan tersangka. Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengumumkan tersangka penyerang gereja, lelaki bertopi gunung. Namun, Catur tak bisa memastikan apakah wajah lelaki bertopi gunung yang tidur di An Nur adalah tersangka yang ditetapkan polisi. “Saya tidak tahu,” kata Catur yang juga diperiksa sebagai saksi.

Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Brigadir Jenderal Ahmad Dofiri menuturkan dari pemeriksaan 11 saksi, tersangka pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina berada di Yogya saat transit dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Banyuwangi Jawa Timur.

Tersangka, kata Dofiri, sebelumnya tinggal di Magelang, lalu mampir ke Yogya dan tinggal selama empat hingga lima hari dengan cara menginap dari masjid dan musola yang disambanginya. “Kami belum tahu berapa lama di Magelang.” Penyidik, kata Dofiri, juga belum tahu pekerjaan lelaki itu termasuk motif penyerangan dan lainnya.

Penyerang Gereja Sleman terekam warga berkaus hitam, membawa tas selempang kecil dan sebuah parang panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *