Mengusut Serangan-serangan ke Pemuka Agama di Tahun Politik

Publik kembali dibuat geram dengan aksi teror penganiayan terhadap pemuka agama. Kali ini, teror biadab dilakukan di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu pagi, 11 Februari 2018.

Ibadah yang tengah dilakukan jemaah Gereja St Lidwina saat itu terusik oleh serangan seorang pemuda nekat bernama Suliyono (22). Aksi penyerangan pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur itu menelan korban. Sabetan senjata tajam membuat Pastor Edmund Prier dan sejumlah jemaah terluka.

Teror di Gereja St Lidwina ini menambah deretan peristiwa sebelumnya, yang juga menimpa pemuka agama. Masyarakat tak bisa lupa dengan aksi penganiayaan berujung tewas terhadap ulama di Jawa Barat. Dalam hitungan sepekan, dua ulama dianiaya oleh pelaku berbeda, yang diduga aparat berwenang mengalami gangguan jiwa.

Dua ulama yang menjadi korban adalah pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah, KH Umar Basri, dan Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) Ustaz Prawoto. Umar Basri dianiaya usai salat Subuh di dalam Masjid Al Hidayah, Kabupaten Bandung, Sabtu, 27 Januari 2018.

Ustaz Prawoto juga demikian dianiaya di Bandung Kulon, Kota Bandung, pada Kamis, 1 Februari 2018. Sempat mendapat perawatan di rumah sakit, akhirnya Prawoto meninggal dunia karena luka parah di bagian kepala akibat pukulan pelaku yang menggunakan potongan besi.

Aksi intoleransi terjadi lagi pada Rabu, 7 Februari lalu. Sejumlah warga Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang menjadi sorotan. Warga menolak kehadiran biksu Mulyanto Nurhalim yang diduga mengajak orang lain untuk masuk agama Budha.

Masyarakat pun heran, mengapa rentetan serangan ini terjadi saat bangsa Indonesia mulai sibuk menghadapi tahun politik. Apalagi peneliti terorisme Al Chaidar menilai terduga pelaku dari rangkaian aksi tersebut tak ada kaitan dengan kelompok radikalisme teroris. Hal ini terutama dalam aksi teror di Gereja St Lidwina.

“Saya sudah konfirmasi ke jaringan-jaringan yang saya teliti seperti misalnya JAD, LDII itu tidak ada yang kenal,” kata Al Chaidar saat dihubungi VIVA, Senin, 12 Februari 2018.

Al Chaidar melihatnya rentetan peristiwa ini diduga lebih masih ada benang merah dengan tahun politik menjelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Ada pihak yang sengaja ingin mendesain agar ricuh dan heboh menjadi pemberitaan. Pola seperti ini dinilainya lumrah terjadi menjelang pelaksanaan event politik.

“Ini kan seperti ada kekuatan by design yang ingin beri shock theraphy ke masyarakat yang tak mengetahui dengan korban pemuka agama,” tutur Al Chaidar menganalisis. Fenomena ini tidak saja terjadi di Indonesia.

Menurut dia, aksi teror penyerangan serupa terhadap seorang figur juga terjadi di Filipina menjelang pelaksanaan Pemilu setempat. Selain penculikan, pola aksi teror dengan pelaku orang gila juga ada.

“Di Filipina itu yang saya teliti ada kasus penyerangan, penculikan, dan aksi orang gila juga,” katanya.

Aksi serangan pada pastor dan jemaah Gereja St Lidwina justru dianggap memunculkan rasa ketidakamanan tokoh agama dan warga beribadah. Selain itu, ikut menimbulkan rasa tidak aman dalam beribadah.

“Menimbulkan rasa saling curiga yang bisa berujung konflik antar umat beragama,” ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Sodik Mujahid, dalam pesan singkatnya kepada VIVA, Senin, 12 Februari 2018.

Selain itu, tak salah bila opini berkembang dengan kecurigaan adanya rekayasa aparat kemananan negara. Persepsi ketidakpercayaan umat beragama dan masyarakat kepada aparat pun kemananan muncul.

“Ketidakpercayaan umat beragama dan masyarakat kepada aparat keamanan dan negara,” tuturnya.

Pihak aparat kemanana diminta untuk bersikap cepat terkait insiden teror ini. Tempat ibadah adalah aset berharga dalam membimbing umat menghadapi dinamika kehidupan masyarakat.

Aksi penganiayaan di Gereja St Lidwina memprihatinkan karena juga kelemahan antisipasi penanganan yang lamban dari aparat keamanan.

“Ini prihatin dan gawat jika negara, aparat keamanan tidak bisa melindungi dan menjamin jiwa, keamanan tokoh dalam beribadah,” tutur Sodik Mujahid.

Pihak Polri disuarakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Ia menegaskan pelaku penyerangan ke Gereja St Lidwina adalah sosok yang dekat dengan pola hidup radikal. Dari pengembangan, meski gagal ternyata pelaku Suliyono juga pernah berusaha pergi ke Suriah.

“Yang bersangkutan informasinya pernah coba membuat paspor berangkat ke Suriah tapi tak berhasil,” kata Tito di Mapolda Metro Jaya, Senin 12 Februari 2018.

Tito menjelaskan pelaku menyerang pastor dan jemaah gereja karena perbuatan amaliah. Aksi ini dengan menyerang kelompok yang dianggap radikal oleh pelaku.

Terkait motif pelaku, sejauh ini pihak kepolisian belum bisa memastikannya. Saat ini, pelaku masih dalam perawatan akibat tembakan saat diamankan.

“Polri tidak ingin berspekulasi, apa mungkin ada motif desain, apapun juga, tapi beranjak pada fakta hukum,” tuturnya.

Pihak kepolisian diminta mengusut tuntas dengan obyektif dan transparan. Hal ini penting agar masyarakat tak curiga dan bertanya-tanya. Apalagi mengingat waktu aksi teror ke pemuka agama ini juga tak berselang lama.

“Kenapa beruntun begini? Ini yang harus dijawab oleh polisi secara transparan dan obyektif agar masyarakat clear serta suasana juga konsusif serta terjaga,” ujar Anggota Komisi I DPR Jazuli Juwaini saat dihubungi VIVA, Senin, 12 Februari 2018.

Meski demikian, masyarakat diimbau juga tak mudah terpancing dengan rentetan aksi teror ini. Bila terpancing dan mudah terprovokasi justru merusak keharmonisan kehidupan bernegara. Kondisi kondusif yang sudah terjaga harus tetap dipertahankan.

“Ini yang penting agar jangan sampai masyarakat terpancing dan tersulut emosi,” tutur Jazuli.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan aksi serangan yang muncul terhadap sejumlah pemuka agama tak terkait dengan politik. Kata dia, belum ada arah ke sana.

“Saya kok belum melihat ke arah sana (politik). Ini hanya kasuistis,” ujar Tjahjo, Senin, 12 Februari 2018.

Meski demikian, memang dia tak menampik eskalasi gangguan keamanan di tahun politik bisa mengancam perhelatan demokrasi. Potensi intensitas gangguan juga meningkat. Bentuknya seperti aksi teror hingga maraknya ujaran kebencian juga fitnah.

“Ancaman, gangguan, dalam rangka konsolidasi demokrasi bisa macam-macam,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *