The Last Jedi, Selamat Datang Fans Baru Star Wars

Rey (Daisy Ridley) akhirnya menemukan Force, kekuatan tersembunyi dalam dirinya, di bawah asuhan Luke Skywalker (Mark Hamill) yang tengah mengasingkan diri. Tak hanya itu, petarung cantik ini juga harus menerima fakta baru, sebuah kisah pahit masa lalu Ben Solo atau Kylo Ren (Adam Driver) yang mengejutkan.

Sementara di luar sana, pasukan Resistance berjuang bertahan hidup (dan melumpuhkan) First Order. Begitu banyak yang gugur dalam perang bintang tersebut. Sebuah harapan baru mereka butuhkan, yakni kembalinya Jedi Sang Legenda, Luke Skywalker.

Star Wars: The Last Jedi akhirnya tayang di Indonesia, Rabu, 12 Desember 2017, dua hari sebelum resmi diputar di negara asalnya, Amerika Serika pada 15 Desember mendatang. Indonesia, Prancis, dan Italia memang termasuk beberapa negara perdana yang memutarnya.

 Hari pertama membentangkan layar di bioskop-bioskop Tanah Air, episode kedelapan Star Wars ini ramai diserbu para movie goers. Tiket laris manis, bahkan penjualannya sudah dibuka sejak beberapa hari sebelumnya.

XXI Plaza Cibubur yang VIVA kunjungi, misalnya. Empat pertunjukkan Star Wars: The Last Jedi di dua studio pada Rabu sore, padat penonton. Studionya terisi penuh hingga barisan terdepan. Meski konon box office di Amerika sedang terpuruk, namun The Last Jedi jadi harapan.

Berdasarkan data ComScore dikutip lewat LA Times, sebanyak 2 hingga 4 persen keuntungan industri Hollywood tahun ini menurun dari tahun lalu. Salah satu sebabnya film-film musim panas yang banyak dianggap gagal. Namun karena The Last Jedi dinilai begitu bagus, film ini disebut-sebut akan menjadi pendongkrak untung di pengujung tahun.

“Film Star Wars terbaik sejak The Empire Strikes Back dan bahkan sangat bisa dibilang setara,” kata Josh Spiegel dari Slashfilm.

“Sinematografer Steve Yedlin telah membuat film ini sebagai Star Wars paling indah,” Matt Goldberg dari Collider.

Sejak karpet merah penanda premier dunia digelar awal pekan lalu, The Last Jedi memang sudah jadi sorotan. Ketika ulasan dari media-media dilepas usai embargo, karya Rian Johnson ini kini bahkan banjir pujian. Di situs agregator kritik Rotten Tomatoes, The Last Jedi sudah mengumpulkan 93 persen fresh dari para pengamat. Tentu saja, skor tersebut jadi magnet tersendiri bagi para calon penonton.

Coba ketik, Star Wars: The Last Jedi, di mesin pencarian Google. Anda akan diminta untuk melakukan voting tentang ketertarikan menonton film ini. Saat kami mencobanya, hasilnya luar biasa. 90 Persen mengaku pasti akan menonton, 6 persennya ogah, dan 4 persen belum tahu.

Pun otomatis, Star Wars The Last Jedi jadi kata kunci terpanas di mesin pencarian itu. Sedang hit di kalangan para movie goers, benarkah film ini sedemikian menariknya?

Film ini punya kekuatan di berbagai sisi, baik plot, penokohan, sinematografi, dan para pemainnya. Berdurasi 151 menit 38 detik, The Last Jedi adalah film Star Warsterlama atau terpanjang yang pernah ada, berdasarkan data dari British Board of Film Classification, dilansir dari Mashable.com. Namun, rasanya tak membosankan, karena setiap adegan dijahit begitu rapi dan penuh kejutan.

Bukan penggemar Star Wars dan belum pernah menonton seri sebelumnya? Inilah kekuatan lain dari Rian Johnson, sang sutradara. Seperti yang ditulis Mark Daniel dari Toronto Sun, The Last Jedi bisa ditonton, bahkan bagi para pendatang baru di dunia Star Wars. Istilah-istilah penting bagi penonton awam dijelaskan dengan baik, tanpa membuat jenuh para fans lama. Apa itu Force, siapa Ren, Rey, dan lainnya dikisahkan dalam dialog dan gambaran yang mudah dipahami, tapi tidak klise.

Para pemain pun sukses membangun penokohan masing-masing. Tak ada yang terlalu menonjol sendirian sehingga harus menghalangi karakter lain yang kerap dianggap penonton lebih potensial untuk dapat sorotan. Lagi-lagi menariknya, mereka punya kisah masing-masing yang sama-sama diceritakan dengan porsi tayang serupa, tapi tak terasa menjenuhkan. Plotnya tak asal jahit hingga berhasil membangun chemistry antar tokoh dan emosi para penonton.

Selain itu, film ini tak akan membuat uang penonton terasa terbuang percuma karena efek visualnya. The Last Jedi, seperti yang tersirat dalam komentar jurnalis Collider di atas, punya visual yang menarik dan memanjakan mata. Perang bintangnya, lightsaber-nya, pesawatnya, planet singgahan yang terabaikan, dan masih banyak lagi memberi pengalaman bak berpetualang sungguhan ke luar angkasa. Belum lagi shot demi shot yang asyik memberi ruh tersendiri pada ceritanya.

Terlepas dari humor yang banyak pengamat bilang tak perlu, tapi menurut saya tidak, film ini menarik untuk ditonton. Namun saya pun tak menampik, ada sejumlah adegan yang layak dipertanyakan. Secara keseluruhan, tentu saja film ini tetap tak mengecewakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *