Kolaborasi Pelajar dan Lansia Membuat Memoar

Pada usia 102 tahun, Florence Wheeler tidak pernah berharap untuk berbagi kisah hidupnya dengan seorang pria berusia 16 tahun, namun ternyata itu menjadi sebuah pengalaman yang akan mereka nikmati.

Sebagai bagian dari program yang dijalankan oleh Allity Aged Care di panti lansia Walkerville, di Adelaide,  Australia Selatan, Florence Wheeler duduk bersama seorang  siswa kelas 10, Nathan McCarthy seminggu sekali selama 10 minggu untuk ikut membantu menulis memoarnya.

“Saya pikir mungkin saya akan perlahan-lahan hilang begitu saja, saya benar-benar berpikir seperti itu, saya tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi, untuk bisa bersama orang-orang yang datang dan ingin mengetahui hal-hal tentang anda,” kata Florence Wheeler.

Dalam kemitraan dengan Rostrevor College, program ini memasangkan sembilan orang siswa kelas 10 dengan warga di panti jompo untuk mendokumentasikan pasang surut kehidupan mereka sebagai bagian dari kurikulum pelajaran Bahasa Inggris mereka.

Nathan mengatakan bahwa dia merasa gugup saat menghadiri pertemuan pertamanya dengan Florence Wheeler, tapi begitu mereka mulai berbicara, persahabatan mereka pun berkembang.

“Sungguh mengejutkan hanya dengan mendengar saja apa yang pernah dia lakukan sangat berbeda dengan apa yang saya lakukan, bagaimana dia hidup dibandingkan dengan bagaimana saya hidup,” katanya.

Florence Wheeler mengaku dia benar-benar menikmati pertemuan mingguan mereka.

“Saya suka Nathan, saya pikir dia orang baik,” katanya.

“Itu adalah hari-hari yang saya benar-benar ingat Ketika saya masih muda, saya pernah memenangkan kejuaraan tenis di daerah itu, Saya mengalahkan seorang gadis dalam kejuaraan itu yang memiliki peringkat cukup tinggi di negara bagian, dan saya mengalahkannya di final dan saya sangat senang dengan prestasi itu,”

Latihan ingatan ‘membuat Anda merasa lebih muda’

Sesama rekan penghuni panti lansia lain, Kathie Beasley mengatakan bahwa dia sempat khawatir untuk berpartisipasi dalam program ini pada awalnya.

“Ini adalah kurva belajar pada usia 93,” katanya.

“Selama bertahun-tahun, saya harus belajar untuk hidup sendirian, saya adalah orang yang tertutup, dan segalanya hanya mengenai diri saya saja. Jadi, ini telah membuka saya sedikit, dan saya berhasil mengingat beberapa hal – bukan berarti saya melupakannya – tapi pengalaman itu banyak yang sudah terselipkan.”

Kathie Beasley mengatakan bahwa membagikan ceritanya dengan Clinton Nitschke yang baru berusia 15 tahun telah menjadi pengalaman yang membuka mata dan membantunya keluar dari cangkangnya.

“Saya suka bertemu orang sekarang, sebelumnya  saya hanya  bersembunyi di balik tirai.”

Merefleksikan saat-sata dimana dia menghabiskan waktu untuk mengenal Kathie Beasley, Clinton mengatakan setelah pertemuan pertama itu ia seperti bertemu dengan seorang teman setiap minggunya.

Program diperluas ke negara bagian lain

Pada akhir minggu ke-10, para siswa membaca sebuah kutipan dari memoar itu ke setiap penghuni panti lansia dan mempresentasikannya dalam bentuk sebuah buku di depan kerumunan keluarga dan kerabat.

Setelah memberikan presentasinya, Nathan memeluk Florence Wheeler.

“Program ini telah mengajari saya banyak hal tentang hidup saya dan bagaimana saya harus menjalaninya,” katanya kepada orang banyak.

Program ini telah berlangsung sukses karena itu panti jompo Allity memutuskan untuk meluncurkannya ke seluruh rumah perawatannya di Australia Selatan, Victoria, Queensland dan New South Wales dan mendapatkan lebih banyak sekolah di dalamnya.

“Bagi para penghuni panti lansia menjaga hubungan dengan masyarakat mengarah pada sebuah kerangka berpikir yang lebih baik dan kesehatan yang lebih baik,” kata Direktur komunikasi panti lansia Allity, Janet Leung.

“Bagi para siswa, mereka belajar sebuah penghargaan untuk dunia yang lebih luas dari mereka sendiri, dan persahabatan sejati yang berhasil dibentuk.”

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *