Kisah Mimin, Wanita Pemanjat Pohon Kelapa Bantu Ekonomi Keluarga

Apa yang dilakukan Mimin (46) tak seperti wanita pada umumnya. Untuk membantu ekonomi keluarga, ibu dua anak warga Dusun Watu Kebo Wetan, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu ini, bekerja sebagai pemanjat pohon kelapa. Meski tidak banyak, hasil kerja Mimin ini mampu membantu ekonomi rumah tangganya.

“Saya bisa memanjat pohon kelapa mulai tahu 1998, usai menikah dengan suami saya, Puryanto (49). Saya naik pohon kelapa ikut-ikut suami, sambil membantunya. Di mana saat itu suami saya penjual kelapa, akhirnya saya bantu memetik kelapa,” kata Mimin saat ditemui di rumahnya, Jumat (12/1/2018).

Menurut Mimin, dia menerima order memanjat pohon dan memetik kelapa dari pemilik pohon kelapa di sekitar rumahnya. Dari per buah kelapa yang dia petik, mendapatkan upah Rp 500. Namun terkadang bisa dapat lebih, tergantung pemilik pohon kelapa.

“Saya memanjat kelapa juga disuruh orang, untuk hajatan keluarga atau ingin dijual. Sedangkan satu pohon terkadang berisi 5 atau 10 buah. Untuk satu kelapa saya patok harga Rp 500 saja. Terkadang bila dapat 50 buah kelapa diupah Rp 25 ribu oleh pemilik pohon. Setiap orang terkadang beda pemberian upahnya sekali manjat. Untuk sehari terkadang bisa 4 atau 5 pohon yang saya panjat. Karena perempuan, juga tergantung dari cuaca. Apabila cuaca hujan tidak berani, karena pohonnya basah,” terang Mimin.

Untuk menghilangkan rasa takut, Mimin mengaku berusaha tidak melihat ke bawah ketika sedang memanjat. Dia berusaha mengalihkan perhatian ke buah kelapa yang hendak dipetik.

“Saya tidak takut naik pohon kelapa asal jangan melihat ke bawah saja. Kalau melihat ke bawah tidak berani, harus lihat ke atas saat manjat. Jika saya takut, bisa tidak makan mas. Tapi saya takut memanjat bila hujan, soalnya licin pohonnya,” ucapnya.

Mimin menuturkan, untuk ketinggian pohon memilih maksimal 5 meter. Tidak pernah memanjat dengan ketinggian 10 meter, karena dinilai terlalu tinggi. Sampai saat ini, dia juga tidak pernah terjatuh. Hanya terkadang terpeleset.

“Kalau sekarang sudah agak jarang memanjat pohon kelapa, soalnya sama anak yang pertama juga tidak boleh. Kalau cuma pendek-pendek pohonnya tidak apa-apa. Kalau tinggi itu yang tidak boleh,” tuturnya.

Sementara suami Mimin, Puryanto mengaku kelihaian istrinya bisa memanjat pohon kelapa karena sering melihat dirinya memanjat. “Ibu (Mimin, red) itu tahunya naik kelapa melihat saya saat memanjat. Karena dulu, sering ikut saya kalau naik kelapa. Mungkin lama-lama ingin belajar mungkin, belajar sedikit-sedikit hingga bisa. Kebetulan juga di belakang rumah juga ada pohon kelapa, mungkin belajarnya dari belakang rumah,” ujar Puryanto.

Puryanto mengakui, jika dulu profesinya sebagai penjual kelapa. Namun sekarang sudah berprofesi menjadi buruh tani. “Memang dulu saya juga pernah menjual kelapa, tapi sekarang sudah berhenti. Karena sekarang saingannya banyak, sedangkan pohon kelapa sudah mulai habis. Akhirnya, saya pindah profesi menjadi buruh tani,” paparnya.

Puryanto mengatakan, tidak pernah menyuruh istrinya memanjat pohon kelapa. Itu memang keinginannya sendiri. Bahkan sebelumnya dia tidak mengetahui kalau sang istri ternyata bisa memanjat pohon kelapa.

“Kalau sama saya tidak boleh, kasihan kalau perempuan naik pohon kelapa. Saya malah tahunya dari tetangga, kalau istri saya bisa naik pohon kelapa. Sebenarnya saya malu, tapi mau gimana lagi. Karena juga bantu ekonomi suami, untuk tambah penghasilan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *