Kemelut Iran Bikin Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Melambung?

Harga minyak dunia tembus ke level tertinggi setelah sebelumnya pernah melambung pada tahun 2015. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan yang melanda Iran, di mana negara tersebut menjadi salah satu produsen utama minyak mentah dunia.

Selain itu, pemotongan produksi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) yang terus berlanjut juga merupakan faktor utama.

West Texas Intermediate (WTI) — minyak bumi yang memiliki sulfur dan kepadatan rendah — diperdagangkan pada 62,12 dolar per barel, naik 49 sen atau 0,8 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya. Harga WTI sempat menyentuh 62,17 dolar per barel dan menjadi harga tertinggi sejak Mei 2015.

Harga minyak mentah Brent, diperdagangkan pada 68,13 dolar per barel, naik 29 sen atau 0,4 persen setelah sempat menyentuh 68,19 dolar per barel.

Selain sempat melonjak ke level tertinggi pada Mei 2015, lonjakan kali ini juga menjadi harga sejak Desember 2014, saat harga minyak memulai tren penurunan.

Udara dingin nan ekstrem di Amerika juga mendorong permintaan jangka pendek penjualan minyak mentah, terutama minyak bakar.

“Pasar semakin mengalami bullish (tren naik) karena cadangan minyak semakin mendekati rata-rata lima tahun. Ketidakpastian geopolitik di Iran, produsen terbesar ketiga OPEC, juga menyebabkan kenaikan harga,” kata William O’Laughlin, analis investasi pada perusaan sekuritas Australia, Rivkin Securities, dilansir VOA, Kamis (4/1/2018).

Di Amerika, cadangan minyak mentah turun sebanyak 5 juta barel, menjadi 427,8 juta barel pada 29 Desember, menurut Institut Perminyakan Amerika.

Sementara itu, pemerintah Iran memastikan bahwa kerusuhan tidak akan berdampak pada produksi minyak di negaranya.

Unjuk rasa anti-pemerintah yang berlangsung di Mashhad sejak Kamis, 28 Desember 2017, kini menyebar di sejumlah kota besar di Iran.

Menurut laporan, demonstran dalam jumlah besar berada di Rasht dan Kermanshah. Sementara itu, unjuk rasa dengan skala yang lebih kecil berlangsung di Isfahan dan Hamadan.

Dikutip dari BBC,  unjuk rasa berawal dari massa yang memprotes kenaikan harga kebutuhan pokok. Namun, protes itu berkembang menjadi kecaman terhadap kepemimpinan Presiden Hassan Rouhani.

Dalam protes itu, sejumlah pengunjuk rasa ditangkap di ibu kota Iran, Tehran.

Menurut Wakil Gubernur Jenederal untuk Urusan Keamanan, mereka yang ditangkap termasuk dalam kelompok beranggotakan 50 orang yang berkumpul di sebuah alun-alun kota.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengecam penangkapan tersebut. Mereka mendesak semua negara agar secara terbuka mendukung rakyat Iran, yang menuntut hak-hal dasar mereka dan berakhirnya korupsi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *