Jadi Calon Ibu Kota Baru, Begini Kondisi Jalan di Palangka Raya

Palangka Raya Kota Palangka Raya menjadi salah satu calon terkuat Ibu Kota baru Indonesia menggantikan Jakarta. Nama ini kerap muncul menjadi yang terdepan, lantaran faktor sejarah dan kesiapan lahan yang sangat luas untuk dibangun sebuah kota pusat pemerintahan baru.

Namun demikian, kesiapan infrastruktur dasar menjadi salah satu modal penting untuk menunjang hal tersebut.

Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Tengah, seperti dikutip detikFinance, Rabu (19/7/2017), panjang jalan provinsi di Kalimantan Tengah mencapai 1.100 km. Dari jumlah tersebut, 50,57% di antaranya kondisi baik, 36,95% kondisi sedang, 10,27% kondisi rusak ringan, dan 2,21% kondisi rusak berat.

[Gambas:Video 20detik]

Sedangkan untuk jalan nasional, Provinsi Kalimantan Tengah memiliki panjang jalan 2.002 km. Kondisi mantap pada jalan nasional mencakup 86,65% di antaranya, sedangkan tidak mantap mencapai 13,35%.

Dari total gabungan panjang jalan nasional dan provinsi, yang kondisi permukaannya aspal beton sekitar 84,5%, kondisi agregat atau kerikil sekitar 13,3% dan kondisi tanah 2,17%.

“Yang di Palangka Raya sendiri ada sekitar 25 km dari 1.100 km jalan provinsi. Jalan nasional, kita ada sekitar 80an km. Selebihnya adalah jalan kota,” kata Kadis PU Provinsi Kalimantan Tengah, Leondard Ampung kepada detikFinance saat ditemui di Palangka Raya, Jumat (16/7/2017).

Meski kondisi jalan di dalam kota Palangka Raya sendiri mayoritas mantap, namun masih perlu perbaikan kondisi jalan akses menuju pelabuhan. Menurut Leo, kondisi jalan akses menuju Pelabuhan di Kalimantan Tengah masih jauh dari kata baik.

Foto: Eduardo Simorangkir
Kendalanya adalah pendanaan. Menurutnya, dengan alokasi dana pembangunan infrastruktur di Kalteng hanya Rp 300 miliar, pembukaan jalan baru dan preservasi, khususnya ke Pelabuhan masih butuh tambahan dana.

“Karena luas Kalteng ini 1,5 nya pulau Jawa. Sementara dana infrastruktur untuk APBD itu hanya Rp 300 miliar. Kalau di Jatim aja berapa triliun. Panjang jalan nasional kita 2.000an km yang ada di Kalteng, jalan Provinsi 1.100 km. Jalan kabupaten ada sekitar 15.000 km. Dengan dana segitu, enggak bisa terbangun dong,” tutur dia.

Idealnya, dia bilang, Pemprov membutuhkan dana sekitar Rp 3 triliun per tahunnya agar dapat membangun jaringan jalan lebih banyak lagi. Terutama membuka keterisolasian daerah yang selama ini belum terhubung, sehingga jalur darat bisa dibuka.

“Per tahunnya di sini, untuk bangun infrastruktur itu butuh Rp 3 triliun supaya mantap dan cepat mengejar ketertinggalan,” ungkap Leo.

Dana tersebut dia bilang bisa digunakan untuk membangun jalan provinsi sepanjang 300 km lagi, dan peningkatan jalan sepanjang 500 km. Selebihnya adalah pemeliharaan karena kondisinya sudah mantap.

“Kalau ke bandara bagus. Tapi yang ke pelabuhan itu memang masih belum terkoneksi. Cikal bakal jalannya sudah ada tapi belum ada jalan akses yang bagus. Kondisinya masih kelas 3 tadi. Padahal kalau ke arah pelabuhan itu kelas 1. Ini kembali ke dana tadi,” pungkasnya.

Foto: Eduardo Simorangkir(ang/ang)