Ini Riwayat Sakit Yanuar yang Dibawa Bapaknya dengan Gerobak

Suprijadi mengaku mendorong gerobak dari Madiun ke Surabaya untuk mengobatkan anaknya, Waras Yanuar. Anak bungsunya tersebut yang ditaruhnya di gerobak, mengalami lumpuh sejak usia tiga tahun.

Pria 52 tahun itu menyebut bahwa Yanuar menjadi lumpuh setelah berobat ke Rumah Sakit Umum Haji Sukolilo 11 tahun yang lalu atau saat Winarsih dan keluarganya masih tinggal di Surabaya. Yanuar yang sekarang berusia 14 tahun kondisinya masih tetap lumpuh.

“Sebelumnya normal. Dulu kan sakit panas terus kejangkejang. Lalu saya bawa ke RSU Haji Sukolilo. Di sana Yanuar disuntik sama dokter yang lain, dokter yang masih muda. Bukan dokter yang biasanya periksa dia,” ujar ibu Yanuar, Winarsih, kepada detikcom di kos yang mereka tempati di Kedung Turi, Taman, Sidoarjo, Kamis (19/10/2017).

Winarsih mengaku punya firasat tidak beres dengan dokter tersebut. Namun karena dokter itu memaksa, maka Winarsih mengiyakan anak bungsunya tersebut untuk disuntik.

“Awalnya saya nggak mau anak saya disuntik dokter itu, namun dia maksa. Dia bilang saya dokternya…saya dokternya. Dokter itu bilang kalau anak saya nggak disuntik, nggak bakal sembuh. Ya sebagai ibu kan saya mau anak saya sembuh, jadi akhirnya saya pasrahkan anak saya ke dokter itu,” jelas Winarsih.

Winarsih menambahkan, dokter tersebut juga pernah melakukan tindakan terhadap Yanuar. Namun Winarsih tak tahu pasti tindakan apa itu. Menurut Winarsih, setelah dilakukan tindakan itu, Yanuar tidak sadarkan diri, bahkan hingga satu bulan lamanya.

“Anak saya gak sadar diri sampai satu bulan. Lalu pas sudah sadar, saya gendong dia (Yanuar). Tapi kok lemas badannya. Pas saya gendong, gak bisa tegak badannya,” kata Winarsih.

Winarsih mengaku tak terima dengan tindakan yang membuat Yanuar lumpuh tersebut. Winarsih bersama suaminya berusaha menuntut dokter tersebut, namun dokter itu seakan menghilang.

“Sudah mau nuntut, tapi dia sudah hilang entah kemana. Sudah dicari orangnya tapi sampai sekarang nggak ketemu,” ungkap Winarsih.

Saat itu hati Winarsih hancur lebur karena RS Haji Sukolilo tak bertanggung jawab atas apa yang menimpa Yanuar. Winarsih juga menyayangkan tindakan RS Haji Sukolilo yang menahan Kartu Keluarga karena tidak mampu melunasi biaya pengobatan.

“Kartu Keluarga kami ditahan karena kurang biaya. Waktu itu biaya pengobatannya Rp 8 juta lebih. Saya waktu itu hanya punya Rp 2 juta,” kata Winarsih.

Suprijadi sendiri mengaku pernah membawa Yanuar ke RSU dr Soetomo sejak April 2017. Meski tak bisa menunjukkan buktinya, Suprijadi mengaku sudah empat kali mengobatkan Yanuar ke RSU dr Soetomo.

“Dari April sudah 4 kali ke RSU dr Soetomo, tiga kali sudah periksa. Yang keempatnya belum bisa periksa, masalah administrasi,” kata Suprijadi.

Sementara itu, Rumah Sakit Haji Sukolilo membenarkan bahwa Waras Yanuar pernah dirawat di rumah sakit tersebut belasan tahun yang lalu.

“Iya, benar dulu ada pasien bernama Waras Yanuar. Rekam jejaknya masih kami cari lagi datanya. Ini kan kejadiannya sudah belasan tahun yang lalu,” kata Kasubbag Humas RSU Haji Sukolilo Djati Setyo Putro saat dihubungi detikcom, Kamis (19/10/2017).

Djati pun juga tidak mengingat penyakit apa yang diderita oleh anak bungsu pasangan Suprijadi (52) dan Winarsih (43) itu.

“Nggak tahu ya dia sakit apa, itu datanya tersimpan. Mesti bongkar lagi itu,” ujarnya.

Mengenai penahanan Kartu Keluarga, Djati hingga saat ini mengaku masih belum menemukannya. “KKnya masih belum ketemu, arsip lama biasanya kami buang,” kata Djati.

Mengenai cerita Winarsih yang mengatakan Yanuar jadi lumpuh setelah berobat ke RS Haji Sukolilo, Djati menyangkal cerita tersebut.

“Nggak, itu cerita bohong. Kami memiliki SOP tersendiri sehingga tidak mungkin ada kejadian seperti itu. Kami mau pasang infus saja perlu tandatangan. Kami nggak mungkin sembarangan bertindak, apalagi seperti itu nyangkut sama nyawa orang,” tandas Djati.