Diperiksa KPK Secara Maraton, Ini Jawaban Anggota DPRD Kota Malang

Pemeriksaan maraton KPK terhadap anggota DPRD Kota Malang, berdampak psikologis. Para saksi yang diperiksa tampak lesu tak bergairah saat keluar dari ruang pemeriksaan.

Penyidik memberikan kesempatan bagi para saksi memasuki waktu solat. Kesempatan itu, banyak digunakan untuk meninggalkan ruang Rupatama Polres Malang Kota, tempat dimana pemeriksaan berlangsung.

Pemeriksaan tahap kedua yang digelar hari ini, memanggil 11 anggota DPRD. Sedangkan Rabu (18/10) sebanyak 9 orang. Total 20 anggota DPRD diperiksa soal istilah Pokir (Pokok pikiran) dalam pembahasan APBD Perubahan tahun 2015.

Sebagian dari anggota DPRD saat ditanya soal pemeriksaan, memilih agar namanya tidak diberitakan. Apalagi mengutip pernyataan dari mereka. Terlihat jelas, mereka seperti dalam kondisi tertekan. “Tolong jangan saya,” kata Suprapto anggota Komisi C DPRD itu, Kamis (19/10/2017).

Priyatmoko Oetomo, juga anggota DPRD saat berada di samping Suprapto mengatakan, proses pemeriksaan sangat mempengaruhi psikologisnya. “Psikologi kita dimainkan,” kata Priyatmoko saat keluar ruangan.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah menjelaskan setelah kemarin diagendakan pemeriksaan terhadap mantan Sekda dan 9 anggota DPRD Malang, hari ini dilakukan pemeriksaan untuk 11 anggota DPRD Kota Malang lainnya.

“KPK terus mendalami bagaimana proses pembahasan dan pengesahan APBDP 2015, apakah ada pertemuanpertemuan dan komunikasi untuk menyukseskan pengesahan dan dugaan permintaan uang Pokir terkait hal itu,” ujar Febri saat dikonfirmasi terpisah.

“Kami ingatkan juga agar para saksi bicara dengan benar dan koperatif,” tegasnya.

Dikatakan Febri, para saksi diperiksa untuk tersangka MAW (Mantan Ketua DPRD Arief Wicaksono).

Selama 2 hari, sudah 20 anggota DPRD Kota Malang diperiksa KPK terkait jembatan Kedungkandang. KPK secara bertahap akan memeriksa seluruh anggota dewan yang berjumlah 45 orang.