Cuaca Buruk, Tanaman Cabai di Banjarnegara Membusuk

Cuaca tidak menentu yang terjadi di Banjarnegara dalam beberapa bulan terakhir rupanya berdampak pada tanaman cabai. Tingginya curah hujan membuat tanaman cabai ‘lomot’ atau mati saat masih dalam persemian.

Kondisi ini tentu membuat petani merugi. Seperti yang disampaikan Agus, salah seorang petani cabai di Desa Lebakwangi Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara. Bahkan menurutnya, dari jumlah tanaman cabai yang ditanam hanya 20 persen yang tetap bertahan hidup.

“Sebagian besar tanaman cabai sudah layu saat masih di persemian. Biasanya kalau sudah layu langsung mati,” kata dia saat ditemui di Lebakwangi Selasa (12/12/2017).

Biasanya petani menanam cabai lagi agar lahan bisa tergarap maksimal. Hal ini membuat ongkos produksi membengkak. Sebab, petani harus memupuk lagi dari awal setiap tanaman cabai.

Agus juga mengeluhkan serangan hama yang menyerang sisa tanaman cabai yang tidak mati.

“Kalau di sini menyebutnya hama gasir dan jangkrik yang sering menyerang tanaman cabai,” terangnya.

Diwawancara terpisah Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Banjarnegara Singgih Haryono membenarkan jika kondisi cuaca saat ini tidak cocok untuk tanaman holtikultura. Misalnya tanaman cabai dan tomat yang banyak ditanam petani di Banjarnegara.

“Kondisi cuaca seperti ini membuat petani tomat dan cabai di berbagai kecamatan gagal panen,” sebutnya.

Dijelaskan Singgih, kondisi ini disebabkan karena curah hujan yang tinggi dan berdampak kelembaban udara. Kondisi ini membuat penyakit dengan mudah menyerang tanaman.

“Sebenarnya kami sudah melakukan berbagai langkah menghadapi kondisi seperti ini. Salah satunya dengan penyemprotan untuk mencegah berkembangnya jamur dan penyakit lainnya,” ujar Singgih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *