Busur Panah Produksi Warga Ponorogo Banjir Pesanan

Ponorogo dikenal pengrajin busur panah satu-satunya. Dan menjadi perajin busur panah, bagi Mahmud Danuri dan Yudi Prasetyo tidak pernah terfikirkan. Padahal sebelumnya, usaha mebel miliknya gulung tikar karena banyaknya pesaing.

Warga Desa Singkil, Kecamatan Balong, ini mengaku memilih membuat busur panah karena terinspirasi olahraga kesukaan Nabi Muhammad SAW. Mahmud mengatakan dirinya setahun menekuni usaha ini. Tak disangka, pesanan ramai berdatangan.

Saat ini pesanan paling banyak datang dari wilayah Karesidenan Madiun, terutama sekolah-sekolah Islam untuk kegiatan ekstra kurikuler.

“Dalam satu bulan saya mampu memproduksi 20-25 busur panah,” tuturnya saat ditemui detikcom di rumahnya, Selasa (2/1/2018).

Mahmud menerangkan awal membuat busur panah lengkap dengan anak panah dan bidikan target, dianggap sulit. Bahkan untuk membuat satu anak panah saja dulu Mahmud sempat kewalahan.

“Dulu saya mikir cara membuat anak panah saja 3 hari, makanya saya berani membuat. Tapi gagal. Akhirnya saya buat lagi begitu seterusnya, akhirnya nemu cara yang pas,” ujarnya.

Saat menemukan cara yang pas, kesulitan lain pun datang. Saat busur panah terbuat dari kayu, rupanya saat dicoba, lentur dan lajunya tidak terarah. Mahmud kemudian beralih ke bahan lain, yakni paralon, namun sayang kendala yang sama masih saja terjadi.

“Akhirnya, kami menggunakan fiber dari Semarang, dari situ busur panah kami lajunya lebih terarah dan kuat,” terangnya.

Menurutnya, bahan fiber dipilih karena lebih enteng saat mengatur tekanan. Apalagi yang menggunakan adalah anak sekolah. Jadi butuh bahan yang ringan.

Sementara itu usaha yang digeluti Mahmud dan Yudi ini bahkan mendapat apresiasi dan didukung dan dijadikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Singkal. “Bantuan tahun 2018 mendatang itu berupa alat untuk produksi busur,” jelasnya.

Untuk harga satu set terdiri dari satu busur panah, dua anak panah dan satu target berbahan dasar kayu Sono, dijual Rp 750 ribu. Sedangkan satu set satu busur panah dari bahan paralon dijual dengan harga Rp 350 ribu.

Kini, pesanan banyak yang berdatangan. Mulai dari Kalimantan, Batam dan Riau. Nama yang dipilih sebagai merk busur buatannya cukup unik. Boerytans atau yang dibaca Buritans ini berasal dari Bahasa Jawa, artinya di belakang rumah. Karena proses pembuatannya di halaman belakang rumah.

“Bahkan pelanggan kami yang pertama dari Australia, saat ada perayaan ulang tahun di Pondok Gontor, kami diberi kesempatan untuk menampilkan hasil produk kami. Salah satu warga Australia yang kebetulan dosen di Gontor tertarik dan langsung beli,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *